6 Alasan Kenapa Cara Anak Kucing Bermain Sangat Agresif

Cara Anak Kucing Bermain

Keagresifan cara anak kucing bermain selalu jadi pokok permasalahan yang sulit dipecahkan. Sifat agresif itu kalau berkembang dan liar, menjadi sangat berbahaya. Entah untuk mereka, ataupun lainnya, dan terutama untuk anak-anak yang masih polos dan hanya tahu caranya bermain. Satu cakaran saja bisa menimbulkan luka yang kalau tak segera diobati kemungkinan jadi penyakit.

Semua pasti ingin memiliki anak kucing yang penurut dan lucu. Namun kenyataannya, lebih banyak anak kucing yang agresif daripada penurut. Perbedaan tipe agresivitasnya tak begitu khas, melainkan umum. Begitu pula dengan penyebab-penyebabnya. Sebelum Anda melakukan hal yang tidak-tidak pada anak kucing, sebaiknya kenali dulu 5 alasan di bawah ini kenapa mereka bisa seagresif itu.

  1. Relasi Antar Anak Kucing

Agresivitas anak kucing bisa jadi karena ia berada dalam lingkungan yang terdiri dari dua atau anak kucing lainnya. Kita tidak pernah tahu apa masalah internal yang mereka alami. Namun kita bisa memahami alasan kenapa mereka bisa agresif. Salah satu cara agar tingkat agresivitas anak kucing menurun adalah dengan membawanya ke luar rumah/lingkungan sementara. Hal itu akan membuatnya lebih tenang. Tapi tentu pakai cara-cara yang aman.

  1. Pindah Tempat

Anak kucing bisa jadi agresif karena baru dipindah dari suatu tempat ke tempat lain. Hal ini berarti seekor kucing pun memerlukan adaptasi. Pada momen-momen ketika ia meluapkan kekesalan, sebisa mungkin Anda tidak menambah-nambahi beban, misal dengan memaksanya masuk kardus. Biarkan ia berjalan dan menikmati lingkungan dulu. Kalau sudah beradaptasi, tentu berinteraksi jadi lebih mudah.

  1. Salah Membelai

Belaian pada tubuh anak kucing yang keliru bisa bikin dia agresif, lho. Kalau ia suka dibelai lehernya, punggungnya, atau kepalanya, belailah di bagian itu. Tapi kalau ia tidak suka dibelai perutnya, jangan memaksa. Manusia pun kalau mendapat perlakuan yang tidak ia sukai tentu ia akan tersinggung dan berubah jadi agresif.

  1. Tertanam Rasa Takut

Anak kucing yang tumbuh di lingkungan menakutkan bisa bikin ia jadi agresif ketika diajak bermain. Dokter hewan sering menangani kasus akibat kucing yang agresif gara-gara ketakutan. Ini sinyal untuk Anda agar lebih berhati-hati lagi ketika bermain maupun melatih mereka pada kondisi-kondisi seperti itu. Jangan malah menakut-nakuti mereka. Nanti Anda kena cakar, lho.

  1. Ada Luka di Tubuhnya

Luka pada tubuh anak kucing bisa menyebabkan ia jadi agresif. Logika itu juga sama di dunia manusia. Selain agresif, biasanya ia juga gampang takut ketika mau dibelai. Mungkin luka itu didapat dari pertengkaran saudara, atau mungkin dicakar oleh kucing besar. Saran terbaik, berilah ia perhatian lebih terutama hal-hal yang bisa menyembuhkan lukanya agar tidak berkembang jadi lebih serius.

  1. Diprovokasi

Berapa jumlah anak kucing yang terprovokasi dan akhirnya berubah jadi kucing agresif? Banyak. Umumnya malah ditertawakan. Padahal itu bukan lelucon yang bagus. Misalkan Anda memprovokasinya dengan menarik-narik ekor, pasti dia tidak suka. Sekali mungkin ia bisa sabar. Dua kali mungkin ia masih sabar. Tapi kalau sampai berkali-kali, Anda siap-siap saja ditinggalkan.

Kucing hanya perlu perhatian dan lingkungan yang nyaman agar ia bisa lebih dekat dengan Anda. Bukan perilaku yang membuat hati mereka terusik. Ada sebuah quote tentang kucing yang begitu mengesankan.

“Mencintai kucing bisa membuatku menikmati kehidupan di dalam rumah, sedikit demi sedikit. Sebab, mereka bisa mengembalikan jiwa orang-orang di sekitarnya.” –Jean Cocteau

Meskipun mereka binatang, mereka juga punya perasaan seperti manusia. Mungkin mereka hanya bisa berkata “miaw”, tapi sesungguhnya mereka berkata banyak dalam waktu yang sama. Sebagai pecinta kucing, pasti Anda bisa memahami bahasa mereka. Perlakukan mereka sebaik-baiknya, sebagaimana Anda menyayangi anak yang masih kecil.

Kenyamanan yang seperti itu akan membuat cara anak kucing bermain jadi lebih menyenangkan. Bebas dari kesan galak. Anak-anak Anda akan aman dari potensi cakaran. Lebih hebat lagi, mereka bisa menjadi teman terbaik selama interaksi dan sikap saling memahami senantiasa terjaga.